Pengaruh Jenis Kulit Salak Dan Suhu Pengeringan Pada Pembuatan Teh Kulit Salak (Salacca Edulis) EFFECT OF SNAKE FRUIT SKIN VARIETY AND DRYING TEMPERATURE ON THE PREPARATION OF SNAKE FRUIT SKIN TEA (Salacca edulis)

Main Article Content

asriati dwi rachmadani asriati

Abstract

Kulit salak sangat prospektif untuk dikembangkan menjadi minuman teh yang menyehatkan, karena kandungan senyawa aktifnya berupa flavonoid yang dapat berperan sebagai antioksidan dalam tubuh. Jenis kulit salak dan suhu pengeringan yang digunakan dapat berpengaruh pada kandungan senyawa aktif dalam bahan yang dikeringkan, sehingga dapat mempengaruhi cita rasa minuman teh yang dihasilkan. Permasalahannya, belum diketahui jenis kulit salak dan suhu pengeringan yang optimal untuk dapat menghasilkan produk minuman teh dengan hasil terbaik yang disukai para panelis. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh jenis kulit salak dan suhu pengeringan yang terbaik pada pembuatan minuman teh kulit salak. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri atas dua faktor, yaitu faktor A mewakili jenis kulit salak yang terdiri atas tiga taraf yaitu a1 = Salak Madu, a2 = Salak Gading, dan a3 = Salak Pondoh Hitam, dan faktor B mewaakili suhu pengeringan yang terdiri atas tiga taraf, yaitu b1 = 35oC, b2 = 40oC, dan b3 = 45oC. Analisis yang dilakukan meliputi uji kadar air teh kulit salak dan uji organoleptik terhadap minuman teh kulit salak meliputi warna, aroma, dan rasa. Hasil penelitian terbaik kemudian dianalisis kadar total fenol, flavonoid dan aktivitas antioksidannya. Pengeringan kulit Salak Madu, pada suhu 45oC, selama 4 jam menjadi perlakuan terbaik pada pembuatan teh kulit salak. Produk terbaik memiliki nilai kadar air teh kulit salak sebesar 6,09%; nilai kesukaan minuman teh kulit salak terhadap warna 3,13 (biasa – suka); aroma 3,30 (biasa – suka); rasa 3,73 (biasa – suka); nilai kadar total fenol teh kulit salak sebesar 163,96 mg/g; nilai kadar total flavonoid teh kulit salak sebesar 63,994 mg/g; dan nilai aktivitas antioksidan teh kulit salak sebesar 219,1145 µg/mL. Kadar air produk terbaik tersebut masih memenuhi standar mutu teh kering sesuai dengan SNI 3836-2013 yaitu kadar air teh maksimum 7-8% (b/b).

Article Details

Section
Articles

References

Badan Pusat Statistik. “Produksi Tanaman Buah-Buahan”. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Indonesia. 2022. [Online]. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/960.

Badan Pusat Statistik. “Produksi Tanaman Buah-buahan, 2021-2022”. Jakarta: Badan Pusat Statistik, Indonesia. 2023. [Online]. https://www.bps.go.id/id/statistics-table/2/NjIjMg==/produksi-tanaman-buah-buahan.html

Joshua dan R. K. Sinuraya. “Keanekaragaman Aktivitas Farmakologi Tanaman Salak (Salacca zalacca)”. Farmaka. vol. 16. no. 1. pp. 99–107. 2018.

I. G. A. S. Dhyanaputri, I. W. Karta, dan L. A. W. Krisna. “Analisis Kandungan Gizi Ekstrak Kulit Salak Produksi Kelompok Tani Abian Salak Desa Sibetan sebagai Upaya Pengembangan Potensi Produk Pangan Lokal”. Meditory. vol. 4. no. 2. pp. 93–100. 2016. [Online]. download.garuda.kemdikbud.go.id

F. Irani, “Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan pada Pembuatan Teh Kulit Salak Pondoh (Salacca zalacca var pondoh)”. Tangerang Selatan : Institut Teknologi Indonesia. 2022.

SNI 3836:2013. “Teh Kering dalam Kemasan”. p. 36. 2013. [Online]. https://adoc.pub/teh-kering-dalam-kemasan.html#google_vignette

Departemen Kesehatan R I.. Cara Pembuatan Simplisia. 1st ed. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. 1985.

SNI 01-2891-1992. “Cara Uji Makanan dan Minuman”. p. 39. 1992. [Online]. https://www.academia.edu/18969402/Dokumen_tips_sni_01_2891_1992_cara_uji_makanan_minuman_55c8046400086?auto=download

SNI 01-2346-2006. “Petunjuk Pengujian Organoleptik dan Sensori”. BSN (Badan Standarisasi Nasional). vol. 67. no. 240. pp. 1 – 137. 2006. [Online]. https://id.scribd.com/doc/141076327/SNI-01-2346-2006-Petunjuk-Pengujian-Organoleptik-Dan-Atau-Sensori

SNI 3143:2011. “Minuman Teh dalam Kemasan”. BSN (Badan Standarisasi Nasional). pp. 1–5. 2011. [Online]. https://www.scribd.com/document/425032140/01-E-3-1c-SNI-3143-2011-Minuman-Teh-Dalam-Kemasan-n

I. S. Waruwu, E. A. Rawar, dan A. Kristiyani. “Penetapan Kadar Flavonoid Total dan Fenolik Total serta Uji Penghambatan Denaturasi Protein dalam Seduhan Teh Bunga Telang (Clitoria ternatea L.)”. Majalah Farmasi dan Farmakologi. vol. 27. no. 2. pp. 47–51. 2023. doi: 10.20956/mff.v27i2.26250.

D. Aritonang. “Uji aktivitas Antioksidan pada Minuman Kemasan dengan Metode DPPH”. Medan: Institut Kesehatan Helvetia. 2019.

P. R. W. Wiratara dan R. A. Ifadah. “Karakteristik Teh Herbal Daun Kalistemon (Melaleuca viminalis) Berdasarkan Variasi Suhu dan Waktu Pengeringan”. Jurnal Teknologi dan Industri Pertanian Indonesia. vol. 14. no. 1. pp. 16–22. 2022. doi: 10.17969/jtipi.v14i1.21196.

R. Saragih, G. Husein, E. Tamizi, Y. Amalia, dan Latifa. “Karakteristik Teh Kulit Melinjo Warna Merah dan Hijau,” Technopex-2018 Institut Teknologi Indonesia. pp. 352–358. Tangerang Selatan : Institut Teknologi Indonesia. 2018